Perempuan : Tubuh dan Fikiran Yang Terpinggirkan Dalam Pembangunan : Melihat Cara Pandang Gramsci Tentang Kelompok yang Terpinggirkan

Ade Indriani Zuchri

Ketua Umum Sarekat Hijau Indonesia

Swami Vivekananda, seorang pemikir spiritual, reformis sosial, dan tokoh kebangkitan nasional India yang sangat berpengaruh mengatakan “Negara dan bangsa yang tidak menghormati kaum perempuannya tidak akan pernah menjadi besar, baik di saat ini maupun di masa depan, pembangunan yang utuh dan menyeluruh menuntut peran penuh kaum perempuan dalam segala bidang”. Kalimat ini sungguh memiliki makna yang dalam dan menampar para pemimpin yang seharusnya sejak awal melibatkan perempuan dalam prosesi pembangunan,baik dalam pengambilan keputusan,perencanaan,pelaksanaan dan evaluasi pembangunan.

Dalam istilah Gramsci dan studi postkolonial, perempuan  adalah kelas subaltern, istilah yang dipakai untuk menggambarkan kelompok-kelompok sosial yang mengalami ketertindasan struktural, terasing dari kekuasaan, dan tak mampu menyuarakan kepentingannya sendiri dalam ruang dominan, cara pandang temurun tentang perempuan yang digambarkan sebagai pihak yang hanya mampu berperan secara domestik, telah menjauhkan perempuan dalam peran-peran strategis yang berdampak terhadap kehidupan mereka dimasa depan,cara pandang patriarkis ini telah menggiring perempuan masuk dalam perangkap pasif politik, atau orang-orang yang tidak memiliki minat terhadap urusan publik, urusan publik,dianggap sebagai wilayah laki-laki,yang lebih mumpuni,lamban laun, bahkan perempuan sendiri berasumsi, sudah sewajarnyalah urusan tata kelola pembangunan ini sepenuhnya diurus laki-laki, bukan diurus perempuan.

Penindasan perempuan secara kultural dan ideologis telah menyempurnakan kesenjangan ekonomi, sehingga mereka dipaksa menerima “takdir” mereka dengan sukarela, kepasrahan yang tak bertepi,sampai akhirnya, cerita tentang korupsi, masuknya korporasi ke desa, tata kelola sumber daya alam yang tidak adil, serta program strategis lainnya yang tidak melihat perempuan sebagai entitas yang masuk dalam skema pembangunan tersebut,berapa banyak pengetahuan lokal perempuan tentang pertanian diabaikan, dianggap sebagai pengalaman usang yang tidak berdampak pada industri modern, pengabaian perempuan juga terlihat dalam pembangunan berbasis science, hanya karena mama-mama di Papua memakai mantra-mantra untuk memulai masa tanam, atau ibung-ibung di Sumatera Selatan memiliki pengetahuan lokal tentang masa tanam, pembenihan, dan cara panen yang tradisional, dianggap mengganggu stabilitas industri pertanian, sehingga lambat laun, peran mereka digantikan oleh cara pandang industri kapitalis, perempuan terjauhkan dari epicentrum pembangunan, tersisihkan tubuh dan fikirannya dari tanah dan hak kelola mereka di kampung, yang akhirnya pembangunan telah mengubah perempuan dari produsen pangan menjadi pengemis makanan, berapa banyak perkebunan sawit telah merubah petani perempuan menjadi buruh perempuan dilahan sawit, yang selama hidupnya, sampai perkebunan sawit tersebut hadir dikampung mereka, perempuan menjadi tuan rumah, penjaga kedaulatan atas tanah mereka.

Pandangan para tokoh ecofeminis yang menyoroti bahwa pembangunan modern ini, khususnya yang berbasis kapitalisme dan patriarki, telah mengabaikan dan merugikan perempuan, terutama perempuanpedesaan, masyarakat adat, pemuda dan anak-anak, terutama telah merusak hubungan yang harmonis yang telah terjaga selama ini antara manusia dan alam.

Kasus penambangan nikel di Papua,Pulau Obi,Morowali dan lainnya, menyadarkan kita, bahwa kelas subaltern yang tidak terdata, terlihat dan tak diihitung oleh kapitalis,telah mempercepat penghancuran pada sumber daya alam, pertemanan para oligarki ini telah memberikan ruang untuk memperburuk hubungan manusia dengan alam,dengan mengambil apa yang ada pada pada tanah, laut, gunung, sungai, tanpa menyisakan untuk ditinggalkan kepada kelas subaltern ini, lalu kapan secara sungguh-sungguh para subaltern ini bisa bicara, menyuarakan penderitaan mereka?, Gayatri Spivak dalam esai terkenalnya, Can the Subaltern Speak?. Jawabannya: mereka hanya bisa bicara jika ruang bicara diciptakan secara sadar—oleh, dari, dan untuk mereka sendiri, dengan amunisi terbatas, daya jangkau terbatas dan sumber daya yang juga terbatas, ecofeminis memulai langkah kecil mereka melakukan pendidikan, dengan jumlah kecil, tetapi diharapkan segera menyebar dan membesar.

Wajah pembangunan, terutama di desa, harus diubah sesegera mungkin, menempatkan perempuan terpisah dari tubuh dan fikirannya, dalam jangka pendek, tentu saja memberikan kemenangan sepihak bagi oligarki, tetapi dalam jangka panjang memupuk rencana protes yang berkualitas, sudah saatnya pemerintah melihat pendidikan untuk perempuan sebagai hak, mengubah struktur politik desa agar lebih partisipatif dananti hirarkis, memperbanyak pendidikan kritis dan membuka ruang tumbuh bersama dengan organisasi rakyat, sehingga perempuan tidak lagi menjadi objek pembangunan, Menghadirkan intelektual organik seperti yang diimpikan Gramsci—mereka yang berasal dari desa, hidup bersama rakyat, dan mampu mengartikulasikan kepentingan kelasnya sendiri.

Daftar Pustaka:

Daftar Pustaka:

Antonio Gramsci – Prison Notebooks : Catatan Catatan dari Penjara, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, Terjemahan, 2013

Karl Marx, Capital: A Critique of Political Economy, Volume I, Book One:  Translated: Samuel Moore and Edward Aveling, edited by Frederick Engels

Vandana Shiva, Staying Alive, Penerbit Zed Books Ltd, 1989

Gayatri Spivak,  Estenfania Loiza,  Can the Subaltern Speak? Columbia University Press, 1988.