Pidato Politik Ketua Umum Sarekat Hijau Indonesia Sarekat Hijau Indonesia Merayakan 18Tahun Perjuangan Ekologi: Tantangan dan Harapan
Kalaulah mesin fikiran dan dan cara pandang negara ini dapat diputar kembali dengan memulihkan semua kebijakan agar lebih ekologis, maka saat ini negara ini tidak akan terjerembab pada soalan lingkungan yang parah dan eksploitasi yang maha besar, yang mendatangkan berbagai bencana ekologi, Indonesia hanya mengenal dua kosa kata saja yaitu makmur dan sejahtera. Sayangnya, fikiran dan corak ekonomi kapitalistik yang berakar, telah membangun jembatan sirotolmustakim untuk bangsa ini secara perlahan menuju neraka ekologi, dan pada akhirnya, rakyat yang menjadi taruhan.
Kekalahan masyarakat yang tergabung dalam aliansi korban gugatan asap di Sumatera Selatan, dan intervensi Greenpeace, yang mengajukan gugatan perdata ke Pengadilan Negeri (PN) Palembang, terhadap tiga perusahaan kayu raksasa: PT Bumi Mekar Hijau, PT Bumi Andalas Permai, dan PT Sebangun Bumi Andalas Wood Industries. Putusan yang diunggah melalui e-Court PN Palembang pada 3 Juli 2025, dimana pengadilan negeri (PN) Palembang memutuskan untuk tidak menerima (niet ontvankelijke verklaard/NO), dinilai sebagai kemunduran besar dalam upaya penegakan keadilan ekologis di Sumatera Selatan, dan salah satu bentuk kelemahan negara dalam melindungi hak dasar warga negaranya.
Kekayaan sumber daya alam Indonesia ini, yang secara massif dan eksploitatif telah dijalankan atas perintah “investasi” melalui pelegalan berbagai bentuk aturan hukum dan kebijakan, sejak Undang-Undang Penanaman Modal Asing (UU PMA) tahun 1967, saat itulah, tubuh Indonesia mulai dimutilasi sedikit demi sedikit, berbagai jalan ditempuh untuk memberikan karpet merah pada investor untuk mengeruk isi bumi ini, dimana oligark memperoleh remah dari persekongkolan eksploitasi SDA itu. Praktek rente juga menjadi subur di negeri ini, dimana sumber daya alam telah diperdagangkan, keuntungan yang seharusnya masuk sebagai akibat return of investment tidak kembali kepada negara dan rakyat Indonesia, tetapi masuk menjadi keuntungan para pemburu rente di negeri ini.
Robert Auty, telah memperingatkan, bahwa sumber daya alam adalah kutukan yang maha dahsyat, dia memberikan kutukan pada wilayah yang ekploitatif, berapa banyak orang Papua yang miskin, bergizi buruk, stunting, tidak memiliki tingkat pendidikan yang tinggi, atau infrastruktur yang baik, smenetara sejak tahun 1967, Papua menjadi wilayah pertama investor untuk dihancurkan sumber daya alamnya, lalu kebaikan apa yang bisa diberikan negara ini kepada rakyatnya?, selain kebodohan, kemiskinan dan bencana ekologis?
Sarekat Hijau Indonesia, adalah hanya satu dari sekian banyak gerakan lingkungan hidup di Indonesia, yang mana hari ini usianya telah memasuki usia 18 tahun, yang berusaha dengan seluruh kapasitasnya membangun ruang tumbuh gerakan lingkungan bersama dengan gerakan lain, yang menghadapi tembok besar bernama kebijakan, atau jalan berliku dengan nomor-nomor jalan yang tak beraturan, tekanan, ancaman, menjadi kawan berjuang, menghadapi negara dan pemimpin yang dengan cara pandang ekstraktif dan anti ekologis, menjadikan sedikit demisedikit gerakan ini kehilangan teman berjuang.
Sarekat Hijau Indonesia, adalah bagian tubuh gerakan lingkungan di negera ini, berafiliasi dengan cara pandang pro ekologis, mecoba memproduksi banyak politisi hijau, yang akan bekerja secara terbuka untuk membuka ruang diskursus tentang keadilan ekologis, walau pekerjaan ini ibarat mencari jarum dalam tumpukan jerami, kehilangan para pemikir gerakan, adalah bagian lain persoalan yang harus dihadapi oleh Sarekat Hijau Indonesia.
Karenanya, di usia 18 tahun ini, Sarekat Hijau Indonesia memanggil kembali pulang kader-kadernya untuk membangun ulang Indonesia dengan tatanan ekologis, yang berpihak pada rakyat dan berderap dalam kesepakatan kolektif menuju peradaban ekologis.
Haturan ribuan terimakasih kepada guru besar Sarekat Hijau Indonesia, orang-orang hebat yang telah bekerja tanpa lelah merumuskan jalan perjuangan SHI dengan segala tantangannya, kepada sahabat-sahabat SHI yang percaya bahwa SHI adalah rumah besar kaum gerakan hijau Indonesia, kepada seluruh struktural SHI yang tetap bekerja dengan segala keterbatasan.
Apa yang telah kita lakukan mungkin saat ini belum terhitung sebagai kekuatan politik ekologi, tetapi api perjuangan inilah yang akan menjadi pemicu “kebakaran” ideologi baru ekologi dimasa depan, yang akan menjadi jalan menuju peradaban ekologi.
Teruslah bersatu, bersarekat dan berlawan bersama Sarekat Hijau Indonesia.
Salam Hormat,
Ade Indriani Zuchri
Ketua Umum Sarekat Hijau Indonesia
