Ketegangan Iran–AS dan Ancaman Instabilitas Baru di Timur Tengah

Oleh: Meidi Pratama
Dewan Pakar Ekonomi SHI

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat menyusul kegagalan operasi intelijen bersama yang melibatkan CIA, Mossad, dan MI6 dalam upaya mengguncang pemerintahan Mullah di Iran melalui mobilisasi demonstrasi besar-besaran. Eskalasi ini ditandai dengan pergerakan signifikan kekuatan militer Amerika Serikat (AS) dari kawasan Laut Cina Selatan menuju Timur Tengah.

Pada 18 Januari 2026, kapal induk USS Abraham Lincoln terpantau meninggalkan Pasifik Barat dan melintasi Selat Malaka menuju arah barat laut, dengan tujuan akhir Teluk Bengal. Kapal induk tersebut dikawal oleh tiga kapal perusak, yakni USS Branch (DD-197), USS Michael Murphy (DDG-112), dan USS Frank E. Peterson Jr. (DDG-121). Di saat yang sama, AS mengerahkan kekuatan udara berupa jet tempur F-15E Strike Eagle dari Skuadron Tempur Ekspedisi 494 (Panthers) dan 492 (Madhatters) yang berbasis di RAF Lakenheath, Inggris, menuju pangkalan udara di Yordania. Pesawat kargo militer juga dikerahkan untuk mempersiapkan logistik, pasukan, serta sistem pertahanan udara sebagai antisipasi jika opsi serangan militer terhadap Iran dijalankan.

Langkah-langkah ini tidak luput dari perhatian Iran. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) telah meningkatkan kesiapan pertahanan laut dan udara. Sistem pertahanan udara Iran diperkuat dengan kombinasi rudal S-400 buatan Rusia, HQ-9B buatan Tiongkok, serta sistem produksi dalam negeri. Dukungan logistik juga dilaporkan datang dari Tiongkok dan Rusia melalui pesawat kargo yang mendarat di Bandara Imam Khomeini, Teheran. Selain itu, Iran memperkuat pengamanan Selat Hormuz dengan mengoperasikan kapal selam Fateh dan Ghader di Teluk Persia. Juru bicara keamanan nasional Iran, Ebrahim Raei, bahkan memperingatkan potensi peningkatan ketegangan militer dalam 24 jam ke depan.

IRGC dan Arsitektur Kekuatan Iran

IRGC dibentuk pasca Revolusi Iran 1979 sebagai respons atas ketidakpercayaan terhadap militer reguler. Awalnya bertujuan melindungi Imam Besar Ayatullah Ruhullah Khomeini, IRGC berkembang menjadi kekuatan militer, politik, dan ekonomi yang dominan. Dengan sekitar 190.000 personel aktif dan dukungan milisi Al Basij yang diperkirakan berjumlah 600.000 orang, IRGC memainkan peran sentral dalam strategi pertahanan dan proyeksi kekuatan Iran.

Dua unit utama IRGC memiliki peran berbeda: Al Basij berfokus pada keamanan dalam negeri, sementara Brigade Al Quds menjalankan operasi luar negeri. Brigade Al Quds membangun dan mengoordinasikan jaringan milisi di Bahrain, Irak, Lebanon, Yaman, Suriah, dan Palestina. Jaringan ini dikenal sebagai axis of resistance, yang terdiri dari sekitar 13 kelompok milisi dengan kekuatan total mencapai kurang lebih 300.000 personel.

Eksistensi Brigade Al Quds pernah digambarkan oleh Jenderal Stanley McChrystal sebagai “deadly puppet masters”, terutama di bawah kepemimpinan Mayor Jenderal Qasem Soleimani hingga kematiannya pada 2020 akibat serangan pesawat tanpa awak AS di perbatasan Iran–Irak. Meski Iran berjanji akan membalas, eskalasi langsung tidak pernah terealisasi secara terbuka.

Serangkaian pukulan berat kembali dialami Iran dalam beberapa tahun terakhir. Serangan Israel terhadap kantor konsulat Iran di Damaskus pada 2024 menewaskan Brigadir Jenderal Mohammad Reza Zahedi dan Brigadir Jenderal Mohammad Hadi Haji Rahimi. Kejatuhan pemerintahan Bashar al-Assad di Suriah memperlemah poros geopolitik Tehran–Baghdad–Damaskus. Puncaknya, operasi Israel bertajuk Rising Lion pada 13 Juni 2025 menewaskan Mayor Jenderal Hossein Salami dan Mayor Jenderal Mohammad Bagheri, dua tokoh militer paling senior Iran. Meski demikian, IRGC kembali melakukan konsolidasi pasca perang 12 hari pada Juni 2025.

Potensi Eskalasi dan Target Konflik

Mobilisasi militer AS kali ini disinyalir menandai pergeseran target dari fasilitas nuklir Iran menuju infrastruktur IRGC. Mengingat banyak markas IRGC berada di kawasan padat penduduk, serangan langsung dinilai sulit. Oleh karena itu, pusat-pusat ekonomi IRGC, termasuk infrastruktur minyak yang menjadi sumber pendanaan utama, berpotensi menjadi sasaran.

Iran merespons dengan ancaman terbuka terhadap USS Abraham Lincoln dan menyatakan kesiapan menyerang pangkalan militer AS di kawasan, termasuk Al Udeid Air Base (Qatar), Naval Support Activity Bahrain, Camp Arifjan dan Ali Al Salem Air Base (Kuwait), serta Al Dhafra Air Base (UEA). Israel, sebagai sekutu utama AS, berada dalam posisi rentan karena berpotensi menjadi target balasan Iran.

Dampak Regional dan Global

Potensi perang terbuka antara AS dan Iran akan menciptakan instabilitas regional yang luas. Iran tidak hanya mengandalkan kekuatan militer reguler, tetapi juga jaringan proksi asimetris. Ansharullah di Yaman dan Hezbollah di Lebanon telah menyatakan kesiapan untuk terlibat jika Iran diserang. Milisi di Irak juga menjadi ancaman langsung bagi pangkalan AS.

Pendekatan Iran yang memadukan realisme defensif dengan strategi insurgency terbukti efektif menciptakan tekanan regional. Ketidakstabilan ini berpotensi meluas ke tingkat global, mengingat Iran merupakan produsen minyak utama dengan produksi sekitar 2,86 juta barel per hari, menyumbang sekitar 5 persen pasokan dunia. Selat Hormuz, yang dilalui sekitar 20 persen minyak dan LNG global, menjadi titik krusial yang jika terganggu akan berdampak signifikan pada pasar energi internasional, khususnya bagi Asia. (MY)