PIDATO KETUA UMUM SAREKAT HIJAU INDONESIA ULANG TAHUN SAREKAT HIJAU INDONESIA 6 Juli 2026

Hari ini, 6 Juli 2026, Sarekat Hijau Indonesia genap berusia 19 tahun.

Sembilan belas tahun bukan sekadar perjalanan waktu. Ia adalah usia transformasi menuju kedewasaan; usia yang tetap teguh menjaga prinsip. Dan prinsip kami adalah: keadilan lingkungan, keadilan sosial, dan keadilan ekosistem.

Kami percaya bahwa Bumi bukan warisan yang boleh dihabiskan oleh satu generasi, melainkan amanah yang harus dijaga untuk generasi berikutnya. Karena itu, Sarekat Hijau Indonesia akan terus berdiri bersama rakyat membangun tatanan lingkungan yang berdaulat, adil, dan berkelanjutan.

Namun, pekerjaan rumah kita masih sangat besar.

Negara harus mulai meninggalkan paradigma pembangunan yang terlalu bertumpu pada ekonomi ekstraktif dan ekspansi perkebunan skala besar. Sudah saatnya pembangunan memberi ruang yang lebih luas bagi ekonomi rakyat berbasis pertanian, perkebunan keluarga, pangan lokal, dan usaha-usaha komunitas. Negara harus menghadirkan infrastruktur, teknologi, alat produksi, pembiayaan, serta jaminan keamanan bagi rakyat untuk mengelola tanahnya sendiri tanpa dibayangi penggusuran ataupun proyek-proyek strategis yang menghilangkan hak atas tanah.

Kami juga mendesak percepatan pemulihan wilayah-wilayah terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Pemulihan yang lambat bukan sekadar persoalan administrasi, tetapi menyangkut keselamatan manusia dan keberlanjutan kehidupan. Demikian pula kawasan-kawasan dengan keanekaragaman hayati yang rusak akibat aktivitas ekstraktif harus segera dipulihkan. Dalam perspektif ecological governance, negara memiliki tanggung jawab bukan hanya untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga untuk memastikan daya dukung lingkungan tetap terjaga bagi generasi mendatang.

Kami mengingatkan agar investasi, termasuk investasi asing di tanah-tanah rakyat, khususnya di Papua, tidak menjadi pintu masuk hilangnya ruang hidup masyarakat adat. Tanah bukan sekadar komoditas ekonomi. Tanah adalah identitas, sejarah, budaya, dan masa depan sebuah bangsa.

Sudah saatnya kita mengakhiri cara pandang yang menganggap hutan yang tetap lestari sebagai lahan kosong yang harus dieksploitasi, atau memandang bentang alam tanpa investasi sebagai simbol keterbelakangan. Di tengah krisis iklim global, justru hutan yang tetap utuh adalah benteng kehidupan, penyimpan karbon, pengatur air, dan penyangga peradaban.

Karena itu, pemerintah harus menjadikan ekonomi hijau rakyat sebagai prioritas nasional. Pertanian lokal, pangan lokal, rantai distribusi yang pendek, produksi yang sehat, dan petani yang sejahtera adalah fondasi kedaulatan bangsa. Kemajuan sejati tidak diukur dari tingginya angka pertumbuhan ekonomi semata, melainkan dari kemampuan negara menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan keadilan antargenerasi.

Di usia ke-19 ini, Sarekat Hijau Indonesia akan terus berjalan bersama rakyat. Menjaga hutan. Merawat tanah. Membela kehidupan. Sebab kami percaya, bangsa yang besar bukanlah bangsa yang paling banyak mengeksploitasi alamnya, melainkan bangsa yang paling bijaksana menjaga warisan ekologinya. (MY)

Selamat ulang tahun ke-19 Sarekat Hijau Indonesia.

Hijau adalah keberanian. Hijau adalah keadilan. Hijau adalah masa depan Indonesia.