Diplomasi Tempe Mendoan: Ingatan Pangan yang Tidak Pernah Tunduk
Maka, menggoreng tempe tidak sampai kering adalah pilihan. Bukan karena tidak bisa, tapi karena tidak perlu. Di titik ini, tempe mendoan menjadi lebih dari sekadar makanan. Ia adalah cara hidup yang menolak berlebihan.
Kalau kita membaca ini dengan kacamata Karl Marx, ada sesuatu yang menarik: bagaimana masyarakat, dalam kesehariannya, tidak sepenuhnya tunduk pada logika produksi yang rakus. Mereka menciptakan ruang kendali kecil apa pun atas bagaimana sumber daya digunakan. Mereka tidak mengakumulasi, mereka mengatur. Tidak memaksimalkan, tapi menyesuaikan.
Dan justru di situlah letak kekuatannya. Selama ini, sistem pangan kita bergerak dalam bayang-bayang kolonialisme bukan hanya dalam sejarah, tapi dalam cara berpikir. Kita didorong untuk memproduksi lebih banyak, mengekspor lebih jauh, dan mengonsumsi tanpa batas. Pangan menjadi komoditas, bukan lagi relasi.
Tempe mendoan berdiri di sisi yang lain. Ia tidak butuh kemewahan bahan. Tidak mengejar standar global. Ia cukup dengan kedelai yang difermentasi, tepung sederhana, dan minyak secukupnya. Tapi dari situ, lahir sesuatu yang utuh, rasa, kebersamaan, dan juga sikap.
Ini yang membuatnya relevan sebagai bentuk dekolonisasi pangan. Bukan dalam slogan besar, tapi dalam praktik yang terus hidup. Ia mengembalikan kendali kepada masyarakat, kepada dapur, kepada keputusan-keputusan kecil yang selama ini dianggap remeh.
Bagi Sarekat Hijau Indonesia, pelajaran seperti ini tidak bisa diabaikan. Gerakan lingkungan sering kali terjebak pada skala besar, kebijakan, regulasi, proyek. Semua itu penting. Tapi tanpa perubahan dalam cara kita memaknai dan mengelola pangan, semuanya akan selalu setengah jalan.
Tempe mendoan mengingatkan bahwa keberlanjutan bukan sesuatu yang harus diciptakan dari awal. Ia sudah ada. Ia hidup dalam praktik-praktik lokal yang sering kita anggap biasa.
Yang perlu dilakukan adalah mengakuinya, merawatnya, dan membawanya ke ruang yang lebih luas.
Di situlah diplomasi tempe mendoan menemukan maknanya. Bukan sekadar membawa makanan ke meja dunia, tapi membawa cara berpikir. Bahwa cukup itu mungkin. Bahwa hemat bukan berarti kekurangan. Bahwa relasi dengan alam tidak harus eksploitatif.
Dan mungkin, dalam dunia yang terlalu sering berbicara tentang pertumbuhan tanpa batas, sepotong tempe yang tidak digoreng sampai kering justru mengatakan sesuatu yang jauh lebih penting: bahwa kita bisa hidup dengan cara yang lain. (MY)
Dokumentasi by AI
Sarekat Hijau Indonesia Soroti Ancaman Biodiversitas dan Mendesak Reformasi Tata Kelola Lingkungan.
Jakarta – Pada 28 April 2026, Sarekat Hijau Indonesia (SHI) menggelar diskusi...
Baca Selengkapnya >
PERNYATAAN SIKAP SAREKAT HIJAU INDONESIA Peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) 1 Mei 2026
Hari Buruh bukan hanya tentang relasi antara pekerja dan upah, tetapi...
Baca Selengkapnya >
Air yang Dikhianati, Tradisi yang Terusir: Membaca Krisis Batang Toru dari Hilangnya Marpangir
Di sejumlah desa di lanskap Batang Toru, Sumatera Utara, warga mulai jarang...
Baca Selengkapnya >
Pembangunan yang Mengusir Kehidupan: Catatan Kelam Hari Bumi dari Sumatera
SUMATERA – Hari Bumi, yang seharusnya menjadi momen refleksi tentang hubungan manusia...
Baca Selengkapnya >
Dari Tersangka ke Terhormat: Sembilan Warga Loli Oge yang Dipulihkan oleh Pengadilan
Palu — Senin pagi, 20 April, ruang sidang di Pengadilan Negeri Kelas...
