Situasi Mencekam di Malei: SHI Tegaskan Solidaritas untuk Aktivis dan Warga
Poso, Sulawesi Tengah — Situasi di Desa Malei Lage, Kecamatan Lage, kian memanas dan menimbulkan rasa takut di tengah masyarakat. Ketua DPD Sarekat Hijau Indonesia (SHI) Poso, Obet, mengungkapkan bahwa kondisi di lapangan saat ini tidak hanya mencerminkan konflik lingkungan, tetapi juga ancaman nyata terhadap keselamatan warga dan para pejuang lingkungan.
“Situasi di Malei saat ini sangat mencekam. Warga hidup dalam bayang-bayang ketakutan. Aktivis, tokoh agama, bahkan keluarga mereka tidak lagi merasa aman di rumah sendiri,” ujar Obet dengan nada serius.
Menurutnya, rangkaian intimidasi yang terjadi belakangan ini diduga berkaitan erat dengan upaya pembungkaman terhadap suara-suara kritis yang selama ini menyoroti aktivitas perusakan hutan di kawasan tersebut. Desa Malei sendiri diketahui berada di wilayah yang memiliki kawasan hutan produksi yang kini dilaporkan mengalami kerusakan signifikan.
Obet menegaskan bahwa dalam kondisi seperti ini, SHI Poso tidak akan tinggal diam dan menyatakan komitmennya untuk berdiri bersama masyarakat dan para aktivis yang memperjuangkan kelestarian lingkungan.
“SHI Poso akan selalu siaga bersama kawan-kawan aktivis dan rakyat. Kami tidak akan membiarkan intimidasi menjadi alat untuk membungkam perjuangan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Obet juga menyoroti pentingnya solidaritas lintas elemen masyarakat, termasuk tokoh agama, pemuda, dan kelompok sipil lainnya, dalam menghadapi tekanan yang semakin meningkat.
Ketua DPW SHI Sulawesi Tengah, Agussalim, S.H., turut memberikan pernyataan tegas. Ia menyampaikan bahwa kondisi hutan di kawasan Desa Malei telah memasuki tahap yang mengkhawatirkan.
“Situasi hutan di kawasan Desa Malei, Poso, dilaporkan mengalami kerusakan yang serius, terutama di area kawasan hutan produksi. Aktivitas yang diduga menjadi penyebab kerusakan ini harus segera ditindak. Ini bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga soal keadilan dan keselamatan masyarakat,” ungkap Agussalim.
Ia juga menekankan bahwa lemahnya pengawasan dan penegakan hukum berpotensi memperparah situasi, sehingga diperlukan langkah konkret dari aparat penegak hukum serta evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola kawasan hutan di wilayah tersebut.
Sebagai bagian dari upaya penguatan kapasitas masyarakat, SHI Poso bersama SHI Sulawesi Tengah akan menggelar kegiatan diskusi paralegal di Desa Malei pada 6 April 2026. Kegiatan ini diharapkan dapat membekali warga dengan pemahaman hukum dasar, termasuk mekanisme perlindungan hukum bagi masyarakat yang menghadapi intimidasi dan konflik sumber daya alam.
“Diskusi ini penting agar masyarakat tidak merasa sendirian. Mereka harus tahu hak-haknya dan bagaimana melindungi diri secara hukum,” tambah Obet.
Di tengah situasi yang kian tegang, pesan solidaritas menjadi kunci. SHI menegaskan bahwa perjuangan menjaga hutan bukan hanya tugas segelintir aktivis, melainkan tanggung jawab bersama untuk memastikan keberlanjutan lingkungan dan keselamatan generasi mendatang.
SHI akan terus memantau perkembangan situasi di Poso dan menyuarakan perjuangan masyarakat yang mempertahankan ruang hidupnya. (MY)
