Biopolitik Pangan dan Kerusakan Metabolik Alam -Manusia Papua (Tinjauan Kritis Marx pada Teori Keretakan Metabolik)
Ade Indriani Zuchri
(Ketua Umum Sarekat Hijau Indonesia)
Mitologi Papua tentang sagu, yang menceritakan legenda tentang penjaga hutan sagu di Papua, Bernama Folo dan Yeba, diyakini sebagai Dewa yang menjaga dan menurunkan sagu sebagai makanan pertama orang asli Papua, tentu, sampai dengan masuknya modal besar dan investasi di tana Papua, mitologi itu diyakini dan menjadi benteng pertahanan orang asli Papua, itu juga yang menyebabkan, orang asli Papua enggan menjual tanahnya untuk kepentingan perkebunan sawit dan tambang, yang secara perlahan akan menimbulkan kerusakan pada sumber daya alam Papua.
Karl Marx dan Friedrich Engel telah mengingatkan, produksi dalam kapitalisme telah merampas manusia dan kehidupan secara keseluruhan dari kondisi reproduksi alamiah dan sosialnya, proses ini yang pada akhirnya menciptakan apa yang disebut dengan keretakan metabolik, dimana pengambilan paksa dari alam untuk kepentingan antroposen dan kapitalisme, telah menjauhkan, bahkan mencabut hubungan yang terinternalisasi antara manusia dengan alam berabad lamanya.
Konsep perampokan atau perampasan paksa alam dan menjauhkan manusia dan entitas lain yang hidup didalamnya, engel dan Marx sepakat menyebut hal ini sebagai perilaku buruk yang tak termaafkan, Engels menyebutnya sebagai pembunuhan sosial, dengan pengabaian terhadap ras, gender, kelas dan identitas, sementara Marx menyebutnya sebagai aliansi spesiesisme, dimana hewan dan mahluk lain dianggap sebagai objek yang dapat dijauhkan dari tanah tempat hidup mereka selama ini demi kepentingan kapitalosen.
Kapitalisme tentu saja telah menyebabkan kehancuran besar melalui degradasi lingkungan, kepentingan industri menjadi pembenaran untuk mempertegas batas antara manusia dengan alam, pendudukan pada tanah untuk kepentingan industri dengan sudut pandang kapitalisme, telah membuka jurang tajam kehilangan hak kepemilikan atas tanah yang selama ini dikuasai dan dikelola oleh orang asli Papua.
Kehilangan atas kepemilikan tanah bagi orang Papua, adalah tragedi, yang ditangisi dan diratapi siang dan malam, tetapi tangis mereka hanya membentur dinding, seperti terbawa angin yang dingin dalam hutan sagu, ancaman kolonialisasi pangan (terutama) menjadi lebih jelas, setelah berbagai proyek strategis nasional bermunculan ditana Papua, terutama food estate, alienasi orang asli Papua dengan makanan asli mereka terjadi sudah, orang muda Papua, mulai menganggap sagu dan ubi-ubian adalah makanan yang primitif dan merepotkan, kapitalis mulai menawarkan makanan industri seperti mie instan, minuman bersoda yang sangat praktis, yang akhirnya sukses mengantarkan anak Papua bergizi buruk, stunting dan mal nutrisi.
Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022 mendapati angka stunting di Papua adalah tertinggi ke-3 dari seluruh provinsi di Indonesia (34,6%) atau 13% lebih tinggi dari angka rata-rata Indonesia (21,6%). Dalam peta kerawanan pangan, Provinsi Papua selalu berwarna merah dari tahun ke tahun, Kehilangan tanah sebagai media tanam pangan lokal bagi orang Papua menjadi salah satu alasan, meningkatnya dari tahun ketahun angka stunting, mal nutrisi dan kelaparan di Papua.
Adakah kebaikan lain yang dapat dihitung sebagai niat baik kapitalosen ini? Kalau konversi kerusakan sumber daya alam Papua ditukar dengan beasiswa segelintir anak Papua, mengirim mereka ke Universitas, atau memberi hadiah disetiap natal oleh para perusak desa dan masyarakat adat, tentu hal itu telah dilakukan dengan hitungan jari yang tidak genap 20, sementara keburukan yang telah dilakukan menunggu dibelakang punggung untuk dihitung.
Marx telah mengingatkan tentang peristiwa guano, praktek import kotoran burung laut yang kaya nitrogen dan fosfat, yang diimpor dalam jumlah besar oleh Inggris dari Amerika Selatan (terutama Peru) sebagai pupuk untuk meningkatkan produktivitas tanah di Inggris, yang peristiwa ini telah memberikan justifikasi Marx tentang keretakan ekologi dan pembunuhan sosial, demi menyuburkan lahan-lahan pertanian di Inggris, Inggris melakukan imperialisme dengan motif perdagangan, sekilas seperti telah melakukan kebaikan, tetapi dalam jangka panjang, tanah-tanah di Peru menjadi rusak, gersak dan akhirnya tak bisa ditanam apapun.
Inggris mengimpor lebih dari 88.540 ton guano pada rentang waktu 1847-1850, dan 209,406 ton pada tahun 1868-1871, penggunan pupuk yang sangat tinggi berasal dari guano ini, dipicu oleh meningkatkan industri makanan di Inggris, pada masa itu, kemampuan ekonomi masyarakat disumbang oleh kemampuan konsumsi pangan harian, sehingga ladang pertanian menjadi bisnis baru, padahal, persis pada saat itu, Peru mengalami krisi pangan, akibat ketidak mampuan memenuhi pangan, dan kehilangan kesuburan akan tanah. Impor guano juga menjadi simbol imperialisme ekologis, termasuk aktivitas kerja paksa dan perbudakan, dimana pekerjanya sekaligus didatangkan dari pulau-pulau guano (termasuk Kepulauan Chinca).
Klaim Marx tentang alienasi spesiesisme terkuak sedikit demi sedikit ditana Papua, saat ini, aktivitas kapitalisme yang melihat tanah sebagai komoditas murni yang melepaskan segala entitas diatas dan dibawah tanah tersebut, relasi kuasa manusia dengan alam yang terjauhkan oleh praktek kapitalis, telah terbukti dengan perampokan tanah, hutan, laut, sungai di Papua. Birokrat yang hanya memiliki kemampuan terbatas dalam kapitalisme ekologis, tidak melihat ada ruang tegas pemisahan antara kepentingan kapitalisme dan kepentingan orang Papua, sebagai entitas yang hidupdan menguasai ruang hidup diatas tanah tersebut.
Klaim sains dan teknologi modern yang dibawa oleh kapitalis yang lebih ramah ekologi, dan lebih memberikan dampak secara ekonomi, sebuah klaim untuk meredam amarah orang asli Papua yang selama ini memanfaatkan hutan mereka dengan parang dan pisau, yang dianggap sebagai tindakan yang tidak ekonomis, logika kapitalisme yang terus berusaha mempromosikan “kehancuran kreatif” yang merusak planet ini tentu tidak akan sejalan dengan para revolusioner ekologi, yang mempertahankan metabolisme alam dan manusia berjalan dengan harmonis, terlihat lambat dan primitif, tetapi secara ekologi, akan berdampak baik dikemudian hari.
Papua telah menjadi simbol kehancuran sumber daya alam, kerusakan ekologi secara massif terus terjadi, Fred magdoff dan Chris Williams menulis bahwa “ tujuan utama masyarakat ekologis adalah menjaga kesehatan jangka panjang biosfer, sambil tetap memenuhi kebutuhan manusia, meskipun tugas ini terlihat mustahil dalam cara pandang kapitalis, untuk mencapainya, diperlukan perencanaan ekologis. Namu, perencanan ini hanya mungkin jika hubungan sosial juga mengalami perubahan mendasar. Kebebasan manusia harus didefenisikan ulang, melampaui kebutuhan indivisu dalam ekonomi komoditas menuju pemenuhan kebutuhan kolektif , seperti yang disampaikan oleh ekonom marxis Paul A. Baran, “ orang-orang yang hidup dalam budaya kapitalisme monopoli tidak menginginkan apa yang mereka butuhkan dan tidak membutuhkan apa yang mereka inginkan”, dengan kata lain, pangan diarahkan oleh industri kapitalisme, apa yang kita makan hari ini didrive oleh industri, yang sebagian besar industri kapitalisme ini telah membuat rantai keterikatan dengan sumber pasokannya secara langsung, yaitu tanah, segala sesuatu yang mengganggu rantai pasok tersebut, wajib dihilangkan, termasuk hubungan manusia dengan alam.
Daftar Pustaka:
John Bellamy Foster, Brett Clark. Perampokan Alam Kapitalisme &Krisis Ekologi:Penerbit Independen, 202
Karl Marx, Capital Volume I: A Critique of Political Economy, trans. by Samuel
Moore and Edward Aveling, Moscow: Progress Publisher
Paul A.Baran, and Paul M. Sweezy, Monopoly Capital an Essay on the American Economic and Social Order, London, 1966
