Festival Bulan Juni 2025 Sebagai Zona Otonomi Sementara
SHI.or.id – Palembang, Di tengah panasnya siang Palembang pada 5 Juni 2025, Festival Bulan Juni dimulai dengan sederhana oleh Sarekat Hijau Indonesia (SHI) Wilayah Sumatera Selatan. Acaranya diisi dengan doa Bersama untuk bumi, makan siang solidaritas, serta refleksi Hari Lingkungan Hidup Sedunia melalui pembacaan esai dan puisi. Namun, di balik acara yang nampak sederhana itu, festival ini menghadirkan sesuatu yang jauh lebih dalam: sebuah Zona Otonomi Sementara (Temporary Autonomous Zone/TAZ), sebagaimana digagas oleh Hakim Bey, yang menjadi ruang otonom di luar jangkauan negara dan pasar.
Festival diawali dengan doa bersama memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, dipimpin oleh Muhammad Husni, Ketua Sarekat Hijau Indonesia Sumsel. Doa ini menjadi ritual bersama untuk bumi yang terluka, sekaligus penegasan bahwa kerusakan lingkungan bukan sekadar akibat alam, melainkan hasil dari kerakusan terorganisir yang dilegitimasi negara.
Makan siang solidaritas yang menyusul bukan sekadar konsumsi, melainkan kritik tajam terhadap program makan siang gratis negara. “Makan siang gratis itu dipakai negara untuk mencuci otak agar kita lupa siapa yang bikin negeri ini rusak. Kita di sini makan sama-sama sebagai solidaritas, bukan belas kasihan,” ujar Husni. Inilah aksi simbolik ala Bey yang mengguncang kesadaran, bukan sekadar protes formal.
Sesi pembacaan esai dan puisi menjadi puncak ekspresi kolektif. Esai tentang musibah ekologis dan puisi-puisi yang mengutuk kerakusan manusia serta sistem yang membiarkannya, menjadi suara perlawanan yang tak perlu teriak. “Puisi itu alat untuk menyampaikan amarah tanpa harus berteriak. Kita sampaikan lewat kata-kata, semoga bisa mengetuk kesadaran,” ujar Rajab dari Himapersta. Festival Bulan Juni semakin kuat menjadi laboratorium solidaritas dan kritik sosial yang otentik.
Rangkaian kegiatan festival hari ini bukan sekadar perayaan komunitas. Ia lahir sebagai respons atas krisis ekologi yang kian akut dan makin sempitnya ruang publik akibat penetrasi kepentingan negara dan pasar. Di tengah kondisi tersebut, Festival Bulan Juni menjadi ruang di mana komunitas bisa bertemu, berbagi cerita, dan membangun solidaritas tanpa sekat institusi atau proyek. “Kami ingin menciptakan ruang di mana komunitas bisa saling mengenal tanpa embel-embel institusi atau proyek. Ini ruang untuk kita, oleh kita,” kata Asmaran Dani, koordinator festival.
Konsep ini sejalan dengan gagasan Hakim Bey tentang TAZ: ruang-ruang yang sengaja diciptakan, bersifat sementara, dan mampu mengelak dari struktur kontrol formal. TAZ adalah “zona di mana pengalaman puncak dan kesadaran alternatif bisa terwujud, dalam suasana otonomi dan tanpa hierarki”. Di ruang-ruang seperti inilah, komunitas dapat mengalami kebebasan yang nyata, meski hanya sesaat, dan membayangkan kemungkinan hidup di luar tatanan yang mapan.
Hakim Bey menulis, Temporary Autonomous Zone bukan sekadar utopia sesaat, melainkan ruang otonom yang tumbuh di sela-sela kontrol negara, tempat komunitas bisa membayangkan dan mempraktikkan dunia alternatif, walau hanya sementara. Zona ini tidak dimaksudkan sebagai pengganti tatanan lama secara permanen, melainkan sebagai “glimpse”—sekilas kemungkinan hidup yang lebih baik, yang bisa menginspirasi perubahan sehari-hari. Dalam konteks Palembang, Festival Bulan Juni menjadi ruang di mana solidaritas, kritik, dan harapan bisa dirayakan tanpa rasa takut, sebuah gerakan sosial yang lahir dari perlawanan terhadap keteraturan yang menindas.
Festival Bulan Juni akan terus berlanjut sepanjang bulan, dengan diskusi, pemutaran film, musik akustik, dan lokakarya komunitas. Setiap agenda adalah upaya memperpanjang umur TAZ—menjaga ruang otonom tetap hidup, meski hanya sementara. Di Palembang, Juni ini, Zona Otonomi Sementara ini telah nyata hadir—sebagai ruang perlawanan, solidaritas, dan harapan.
