Pangan Lokal dan Identitas Bangsa: Cara Rakyat Melawan Kolonialisasi Pangan

Pangan Lokal dan Identitas Bangsa: Cara Rakyat Melawan Kolonialisasi Pangan

Oleh: Ade Indriani Zuchri

Ketua Umum Sarekat Hijau Indonesia

 

Proses hilangnya pangan lokal akibat ekspansi perkebunan besar dan industri ekstraktif menunjukkan bahwa Indonesia sedang memasuki fase kolonialisasi pangan masa depan. Fenomena ini bukan sekadar perubahan ekologis, tetapi merupakan hasil dari struktur ekonomi dan politik yang menempatkan korporasi dan kepentingan pasar global di atas kebutuhan masyarakat lokal.

Dalam perspektif Food Regime Theory, hilangnya sumber pangan lokal adalah konsekuensi dari dominasi rezim pangan korporasi, di mana perusahaan besar mengendalikan produksi, distribusi, standar, hingga konsumsi pangan. Diversitas pangan lokal dianggap tidak modern dan tidak kompetitif, sehingga secara sistemik tersingkir.

Sementara itu, Political Ecology membantu menjelaskan bahwa perubahan tata ruang dan hilangnya akses masyarakat terhadap tanah, hutan, dan sungai adalah hasil dari relasi kuasa yang timpang. Konsesi lahan, kebijakan ekstraktif, dan perampasan ruang hidup menunjukkan bahwa krisis pangan lokal bukan semata persoalan lingkungan, tetapi juga persoalan politik dan keadilan sosial.

Untuk keluar dari jebakan kolonialisasi pangan, diperlukan penguatan kedaulatan pangan berbasis komunitas, perlindungan ekosistem pangan lokal, dan kebijakan yang mengakui, melindungi, serta memulihkan ruang hidup masyarakat adat dan lokal. Hanya dengan pendekatan yang adil, ekologis, dan berbasis pengetahuan lokal, Indonesia dapat membalik arus kolonialisasi dan memastikan masa depan pangan yang berdaulat, lestari, dan inklusif. (MY)