Perempuan di Garis Depan Krisis Pangan dan Energi Global : DPW SHI Sumsel dan OWA Indonesia Gelar Peringatan Hari Perempuan Internasional 2026

Palembang — Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional yang diperingati setiap tanggal 8 Maret, Dewan Pimpinan Wilayah Sarekat Hijau Indonesia (SHI) Sumatera Selatan bekerja sama dengan Oase Wanita dan Alam (OWA Indonesia) menyelenggarakan Diskusi Publik pada 11 Maret 2026. Kegiatan ini mengangkat tema “Perempuan di Garis Depan Krisis Pangan dan Energi Global.”

Peringatan ini menjadi ruang refleksi atas peran penting perempuan dalam menjaga keberlanjutan sistem pangan sekaligus menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi perempuan di tengah meningkatnya krisis ekologis dan perubahan iklim.

Ketua Umum Sarekat Hijau Indonesia, Ade Indriani Zuchri, yang hadir dalam kegiatan tersebut menegaskan bahwa perempuan memiliki posisi strategis dalam menjaga keberlanjutan sistem pangan dan sumber daya alam. Menurutnya, di banyak wilayah, terutama di pedesaan, perempuan merupakan aktor utama dalam memastikan keberlangsungan pangan keluarga dan komunitas.

“Di berbagai belahan dunia, perempuan adalah tulang punggung sistem pangan. Mereka mengolah tanah, menjaga hutan, mengelola air, menyimpan benih, dan memastikan pangan bagi keluarga serta komunitas tetap tersedia,” ujar Ade Indriani Zuchri dalam sambutannya.

Namun, ia mengingatkan bahwa fondasi ekologis yang menopang sistem pangan saat ini menghadapi tekanan yang semakin besar. Deforestasi, ekspansi perkebunan skala besar, serta aktivitas industri ekstraktif dinilai telah merusak ekosistem dan melemahkan ketahanan pangan global.

“Di banyak tempat, perempuan adalah pihak yang pertama merasakan dampak dari kerusakan lingkungan tersebut. Mereka harus menghadapi tanah yang semakin sulit diolah, sumber air yang berkurang, dan meningkatnya kerentanan pangan di tingkat rumah tangga,” jelasnya.

Ade menambahkan bahwa krisis yang terjadi saat ini tidak semata-mata persoalan produksi pangan atau energi, melainkan juga berkaitan erat dengan keadilan ekologis dan keadilan gender.

Menurutnya, selama ini perempuan telah memainkan peran penting sebagai penjaga keanekaragaman hayati serta pewaris pengetahuan lokal mengenai sistem pangan yang berkelanjutan. Karena itu, keterlibatan perempuan dalam pengelolaan sumber daya alam harus menjadi bagian penting dalam upaya mengatasi krisis pangan dan energi global.

“Ketika perempuan diberdayakan dalam pengelolaan tanah, hutan, dan sumber daya alam, komunitas menjadi lebih kuat dan ekosistem menjadi lebih tangguh,” ujarnya.

Melalui momentum peringatan Hari Perempuan Internasional ini, Sarekat Hijau Indonesia mendorong pendekatan pembangunan yang menempatkan perempuan sebagai aktor utama dalam menjaga keberlanjutan lingkungan dan sistem pangan.

“SHI percaya bahwa masa depan pangan sangat bergantung pada ekosistem yang sehat. Dan untuk mencapainya, kepemimpinan perempuan menjadi salah satu kunci penting,” kata Ade.

Kegiatan ini juga diisi dengan diskusi publik, refleksi gerakan perempuan, serta berbagi pengalaman dari komunitas perempuan yang terlibat langsung dalam upaya perlindungan lingkungan dan penguatan ekonomi berbasis sumber daya alam.

Melalui kegiatan ini, penyelenggara berharap semakin banyak pihak yang menyadari bahwa peran perempuan tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga keberlanjutan lingkungan, ketahanan pangan, dan masa depan Bumi.(MY)